Metode Perhitungan Waktu Shalat
Waktu shalat dihitung berdasarkan posisi matahari terhadap horizon. Parameter utama yang membedakan setiap metode adalah sudut depresi matahari saat Fajar (Subuh) dan Isya. Semakin besar sudutnya, semakin awal waktu Subuh dan semakin larut waktu Isya.
Untuk pengguna di Indonesia
Kementerian Agama Indonesia (Kemenag) menggunakan sudut Fajar 20° dan Isya 18°. Parameter ini identik dengan metode MUIS Singapore (ID: 11). Gunakan metode tersebut untuk mendapatkan jadwal yang paling sesuai dengan jadwal resmi pemerintah Indonesia.
Apa itu Sudut Fajar dan Isya?
Sudut Fajar (Fajr Angle)
Sudut depresi matahari di bawah horizon saat fajar astronomi dimulai. Waktu Subuh (Fajr) dihitung saat matahari berada pada sudut ini sebelum terbit. Sudut lebih besar = Subuh lebih awal.
Sudut Isya (Isha Angle)
Sudut depresi matahari di bawah horizon saat syafaq (cahaya merah senja) hilang. Waktu Isya dihitung saat matahari berada pada sudut ini setelah terbenam. Sudut lebih besar = Isya lebih larut. Beberapa metode menggunakan interval tetap (menit) dari Maghrib.
Detail Setiap Metode
0 Jafari / Shia Ithna-Ashari
Metode perhitungan yang digunakan oleh mazhab Syiah Ithna-Ashari. Menggunakan sudut Fajar 16° dan Isya 14°. Selain itu, waktu Ashar menggunakan shadow factor 4 (bukan 1 atau 2).
1 University of Islamic Sciences, Karachi
Ditetapkan oleh Universitas Ilmu-ilmu Islam Karachi. Menggunakan sudut Fajar dan Isya masing-masing 18°. Banyak digunakan di kawasan Asia Selatan.
2 Islamic Society of North America (ISNA)
Metode yang ditetapkan oleh Islamic Society of North America. Menggunakan sudut yang lebih kecil (15°) karena kondisi garis lintang tinggi di Amerika Utara.
3 Muslim World League
Ditetapkan oleh Rabithah Alam Islami (Muslim World League) yang berpusat di Makkah. Fajar 18° dan Isya 17°. Umum digunakan di Eropa dan negara-negara yang tidak memiliki otoritas waktu shalat resmi.
4 Umm Al-Qura University, Makkah
Metode resmi yang digunakan di Arab Saudi, ditetapkan oleh Universitas Umm Al-Qura, Makkah. Waktu Isya ditetapkan 90 menit setelah Maghrib (bukan berdasarkan sudut), atau 120 menit saat Ramadan.
5 Egyptian General Authority of Survey
Metode resmi yang digunakan di Mesir, ditetapkan oleh Otoritas Survei Umum Mesir. Fajar 19.5° dan Isya 17.5°. Digunakan juga di beberapa negara Afrika.
8 Gulf Region
Metode yang digunakan di kawasan Teluk Persia (Gulf Region). Fajar 19.5° dan Isya 90 menit setelah Maghrib. Digunakan resmi di UAE, Bahrain, dan Oman.
9 Kuwait
Metode resmi yang digunakan di negara Kuwait. Fajar 18° dan Isya 17.5°.
10 Qatar
Metode resmi yang digunakan di negara Qatar. Fajar 18° dan Isya 90 menit setelah Maghrib.
11 Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)
Direkomendasikan IndonesiaDitetapkan oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). Menggunakan Fajar 20° dan Isya 18°. Metode ini sangat dekat dengan parameter yang digunakan Kementerian Agama Indonesia (Kemenag) dan BMKG untuk Indonesia. Direkomendasikan untuk pengguna di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
12 Union Organization Islamic de France
Metode yang ditetapkan oleh Union des Organisations Islamiques de France. Menggunakan sudut kecil 12° untuk Fajar dan Isya, disesuaikan dengan kondisi garis lintang tinggi di Eropa.
13 Diyanet İşleri Başkanlığı, Turkey
Metode resmi yang digunakan di Türkiye, ditetapkan oleh Direktorat Urusan Keagamaan Turki (Diyanet). Fajar 18° dan Isya 17°.
14 Spiritual Administration of Muslims of Russia
Metode yang ditetapkan oleh Administrasi Spiritual Muslim Rusia. Fajar 16° dan Isya 15°. Digunakan di Rusia dan beberapa negara Asia Tengah bekas Soviet.
15 Moonsighting Committee Worldwide
Ditetapkan oleh Moonsighting Committee Worldwide yang dipimpin oleh Khalid Shaukat. Menggunakan sudut 18° namun dengan pendekatan berbasis observasi dan koreksi khusus untuk lintang tinggi.
20 Institute of Geophysics, University of Tehran
Metode yang ditetapkan oleh Institut Geofisika Universitas Tehran, Iran. Fajar 17.7° dan Isya 14°. Merupakan alternatif dari metode Jafari untuk Iran.